Hasil Investigasi FDR Sriwijaya Air SJ182, Pilot Masih Komunikasi dengan ATC 6 Detik sebelum Jatuh



TRIBUN-VIDEO.COM – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan hasil investigasnya terkait insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 9 Januari 2021 lalu.

Pihaknya juga menguungkapkan data hasil investigasi dari rekaman flight data recorder atau salah satu bagian hitam dari kotak hitam pesawat tersebut, serta data dari air traffic controller (ATC) Bandara Soekarno-Hatta.

Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Kapten Nurcahyo Utomo mengatakan, pesawat berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 14.36 WIB.

Dalam data FDR, tercatat pada ketinggian 1.980 kaki, autopilot mulai aktif.

Masalah pada pesawat Boeing 737-500 ini muncul saat mencapai ketinggian 8.150 kaki.

Saat pada ketinggian tersebut, throttle atau tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri bergerak mundur.

Tenaga mesin atau putaran mesin juga ikut berkurang, sedangkan mesin sebelah kanan tetap.

Meski begitu, pilot masih berkomunikasi dengan baik dengan ATC.

Pada pukul 14.38, pilot juga meminta berbelok ke arah 0,75 derajat pada ATC lantaran faktor cuaca.

Saat itu, ATC memberikan izin.

ATC juga memperkirakan perubahan tersebut akan menyebabkan pesawat SJ 182 akan bertemu pesawat lain, yang berangkat dari bandara yang sama di Bandara Soekarno-Hatta, dengan tujuan yang sama, yaitu Pontianak.

Maka pihak ATC kemudian meminta SJ 182 diminta berhenti naik di ketinggian 11.000 kaki

Pada pukul 14.39 WIB, pesawat mulai berbelok ke kiri saat melewati ketinggian 10.600 kaki dan berada di 046 derajat.

ATC kemudian memberi instruksi untuk naik ke ketinggian 13.000 kaki.

Pada pukul 14.39.59 WIB pilot juga masih menjawab arahan dari ATC.

Pukul itu juga merupakan komunikasi terakhir yang terekam di rekaman komunikasi pilot di ATC Bandara Soekarno Hatta.

FDR kemudian merekam bahwa pesawat Sriwijaya Air SJ 182 mencapai ketinggian tertinggi 10.900 kaki pada pukul 14.40.05 WIB.

Namun setelah ketinggian ini pesawat mulai turun, autopilot tidak aktif, arah pesawat pada saat itu adalah 016 derajat.

Bagian hidung pesawat mulai naik dan pesawat justru miring atau roll ke sebelah kiri.

Saat itu, Nurcahyo mengatakan bahwa throttle sebelah kiri semakin berkurang, sedangkan yang bagian kanan tetap.

FDR mencatat aktivitas terakhir pesawat pada pukul 14.40.10 WIB.

Saat itu autothrottle mulai tidak aktif dan pesawat dalam keadaan menunduk.

Sekitar 20 detik kemudian flight data recorder mulai berhenti merekam.

Dari data FDR tersebut, pihak KNKT mengungkapkan belum bisa memberikan keterangan apa penyebab kecelakaan terjadi.

Pasalnya, data FDR harus dilengkapi dengan rekaman suara pada memori CVR yang hingga saat ini masih belum ditemukan.

source

You May Also Like

9 Comments

  1. Kasian pilot dan korban psawatnya,, knp takdir spt ini untuk org2 yg sholeh spt kapten, udh jelas psawat bermasalah.. Tp msh aj…
    Smg kapten danpnumpang udh bhgia d surganya Allah..

Leave a Reply

Your email address will not be published.